Monday, March 30, 2009

tazkiyatun Nafsi

Tazkiyah An Nafs
PENGENALAN TAZKIYATUN NUFUS
Posted by irkss_08/09
Sesiapa pun yang memperhatikan gelagat manusia pada saat ini, niscaya akan dapat melihat banyak perkara yang menghairankan. Yakni, kebanyakan manusia menaruh perhatian yang lebih kepada perkara lahiriyah. Pada masa yang sama, mereka juga lalai dari kebutuhan batiniyah. Lebih mudah untuk dijelaskan, manusia dapat dibahagikan kepada beberapa bahagian.


Bahagian pertama, manusia yang hatinya mati dan beku. Bahagian kedua, hatinya sakit, keras dan kaku. Adapun bahagian yang ketiga, hatinya hidup, namun keruh dan layu. Disebabkan perkara inilah, terbitnya artikel tentang kebersihan hati dan penyucian jiwa menurut manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.


Jadi, marilah kita bersama menyingkap makna yang terselindung di sebalik istilah tazkiyatun nufus secara benar dan menyeluruh. Pada awal perbahasan ini, akan dijelaskan definisi dan
dalil-dalil yang menyeru kepada tazkiyatun nufus di dalam kehidupan kita seharian. Dalam slot ini nanti akan dijelaskan bagaimana tazkiyatun nufus yang dituntut oleh Allah dan Rasul-Nya.

Definisi Tazkiyatun Nufus

Tazkiyah

Menurut bahasa ianya bererti suci, berkembang dan bertambah. Akan tetapi, apa yang sebenarnya dimaksudkan di sini ialah pembaikan dan penyucian jiwa melalui jalan ilmu yang bermanfaat, amal shalih, mengerjakan segala yang diperintah dan meninggalkan segala yang dilarang.
Nabi telah menjelaskan makna tazkiyan nufus dengan sabdanya yang bermaksud:
“Tiga perkara, barangsiapa yang mengerjakannya, akan merasai kelazatan iman. Iaitu
(pertama), seseorang yang menyembah Allah semata-mata, tiada sembahan yang hak, kecuali hanya pada-Nya.

(Kedua), orang yang membayar zakat hartanya setiap tahun dengan jiwa yang rela, tidak membayarkannya dengan (haiwan) yang sudah tua, tidak yang kurus, dan tidak pula yang sakit, tetapi membayamya dengan pertengahan hartanya, kerana Allah tidak meminta darimu harta yang terbaik dan tidak memerintahkan dari harta yang jelek, dan,

(Ketiga), orang yang menyucikan dirinya.

Maka seseorang bertanya, "Apakah tazkiyatun nufus itu?" Beliau menjawab, "la mengetahui (meyakini), bahwa Allah selalu bersamanya di mana pun ia berada." (HR. Thabrani dalam As- Shagir dan Baihaqi dalam Sunan. Dishahihkan oleh Al Albani dalam As-Shahihah,1046)

Berdasarkan hadith di atas, Nabi Muhammad s.a.w. telah menyatakan bahawa tazkiyatun nufus merupakan salah satu dari tiga perkara yang dapat menghadirkan kelazatan iman. Baginda menafsirkannya dengan martabat Ihsan iaitu menyembah Allah berdasarkan keyakinan, bahawa Allah selalu melihat dan mengetahui segala rahsia dan kenyataan, mengetahui zahir bahkan yang batin. Tidak ada satu perkara pun yang tersembunyi daripada pengetahuan Allah s.w.t.


Dalil-dalil mengenai Tazkiyatun Nufus


1. Allah telah bersumpah bahawa kesalihan dan keberuntungan hamba itu, bergantung kepada tazkiyatun nufus. Allah berfirrnan:

“Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan rugilah mereka yang mengotorinya” (QS Asy Syams: 7 - 10).

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan mengingati nama Rabbnya, lalu bersembahyang” (QS Al A'la: 14-15).

2. Tazkiyatun nufus merupakan salah satu tugas pokok para nabi.

Sebagai contoh, ketika Nabi Musa a.s. berdakwah kepada Fir'aun, baginda berkata kepadanya:
“Adakah kamu ingin untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan ku pimpin ke jalan Rabbmu, agar kamu takut kepada-Nya?” (QS An Nazi'at: 18 -19).

Dan Allah juga telah berfirman tentang Nabi Muhammad s.aw.:

“Dia-lah yang mengutuskan kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari kalangan mereka, yang rnembacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata” (QS Al Jumu'ah: 2).

3. Tazkiyatun nufus menjadi syarat untuk meraih darjat yang tinggi dan kenikmatan abadi.
Allah berfirman:

“Dan barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, dan benar-benar telah beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh ternpat-tempat yang tinggi (mulia). (Iaitu) surga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan demikianlah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan)” (QS Thaha: 75 - 76).

4. Tazkiyatun nufus merupakan salah satu hajat utama yang diminta Rasulullah.

Dalam do'anya, Rasululah mengatakan:

“Ya Allah, berikanlah ketaqwaan dan sucikanlah diriku ini, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang mampu menyucikannya, dan Engkaulah Penolong dan Tuannya” (HR Muslim. 2722).


Manhaj Yang Shahih Dalam Tazkiyatun Nufus
Perlu diingat, bahwa tazkiyatun nufus hanya dapat diraih melalul jalan syari'at, jalan yang diajarkan oleh para rasul.


Ibnul Qayyim mengatakan: "Tazkiyatun nufus itu lebih sulit dan lebih rumit dibandingkan dengan perawatan dan pengobatan badan. Barangsiapa berusaha mensucikan dirinya dengan jalan riyadhah, mujahadah dan khalwat yang tidak diterangkan oleh Rasul, maka perumpamaannya bagaikan orang sakit yang ingin mengobati dirinya dengan pendapatnya sendiri.”

Bagaimana bisa pendapatnya akan sesuai dengan ilmu seorang dokter? Para rasul adalah dokter hati dan jiwa. Maka tidak ada jalan untuk kesucian jiwa dan keshalihan hati, kecuali dengan melalui jalurnya, lewat bimbingannya dengan penuh ketundukan dan kepasrahan kepadanya. 4
I
bnul Qayyim juga mengatakan: “Adapun badan yang bersih, adalah badan yang suci karena taat kepada Allah. Dagingnya tumbuh dari makanan halal dan minuman halal. Manakala badan terbebas dari unsur haram, dan kotoran-kotoran yang dilarang oleh akal, agama dan kehormatan, dan jiwa suci dari ikatan-ikatan dunia. maka bersihlah tanah hati, siap menerima benih ilmu dan ma'rifat.


Jika setelah itu disirami dengan air riyadhah syar'iyyah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad, yaitu riyadhah yang tidak keluar dari ilmu, tidak jauh dari kewajiban dan tidak menelantarkan sunnah, maka hati (pasti) menumbuhkan tanaman yang indah menawan, dari jenis ilmu, hikmah dan faidah."


Wasilah Tazkiyatun Nufus
Tazkiyatun nufus sesuai manhaj nabawi, bisa dicapai dengan berbagai macam ibadah kepada Allah. Yang terpenting diantaranya ialah:


1. Tauhid
Merealisasikan tauhid merupakan jalan terbesar dan terpenting untuk tazkiyatun nufus. Allah berfirman,


"Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti karnu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabb kamu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya, dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan(Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat” (QS Fushshilat: 6 - 7).


Kebanyakan mufassir (para ahli tafsir) dari kalangan salaf maupun orang-orang sesudahnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata zakat dalam ayat di atas ialah tauhid: syahadat "La Ilaaha Illallah" dan Iman; yang dengannya, hati menjadi bersih. Karena tauhid itu menolak adanya Tuhan dan sesembahan selain Allah dari hati. Yang demikan itu merupakan pangkal kesuciannya. Adapun penetapan uluhiyyah Allah dalam hati, ialah pangkal hidup dan berkembangnya hati. 6


Allah dalam ayat di atas menyebut tauhid dengan istilah zakat sehagaimana Allah menyebut syirik dengan najis. Allah berfirman:


“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka rnendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Iagi Maha Bijaksana.” (QS At Taubah:28).


Ibnul Qayyim mengatakan: "Tauhid adalah sesuatu yang paling lembut. halus, bersih, dan jernih. Maka, kotoran yang sekecil apapun dapat membuatnya keruh dan mempengaruhinya. la bagaikan kain putih yang sangat sensitif terhadap kotoran sekecil apapun. la Juga bagaikan cermin yang sangat bersih, benda yang paling kecilpun dapat mpengaruhinya..." 7


Adapaun syirik, maka ia adalah najis yang paling najis, paling kotor dan paling jijik. 8

Tauhid adalah zakat. la menumbuhkembangkan amal-amal shalih dan memberkatinya.
Ketaatan yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah, pahalanya sangat besar dan digandakan. 9
Adapun syirik, maka ia adalah penghapus semua amal ibadah dan mengakibatkan kekekalan di dalam neraka jahannam. Lagi pula syirik menyebabkan kehinaan dan kenistaan, sebagaimana firman Allah:

“Janganlah kamu adakan tuhan yang lain disamping Allah agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (QS AI Isra: 22).

Artinya ia tercela, tidak ada yang memuji. Dan ia terhina, tidak ada yang menolong. 10


2. Shalat

Rasulullah bersabda:
"Beritahukanlah kepadaku. seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang kamu, lalu ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apa pendapatmu, apakah ia masih menyisakan kotoran padanya?"

Mereka menjawab,
"Dia tentu tidak menyisakan sedikitpun dari kotorannya.'
Beliau bersabda,

"Demikian itulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah menghapus dosa-dosa." 11

Ibn Al Arabi mengatakan,

“Persamaan dari perumpamaan tadi ialah sebagaimana ia ternodai dengan kotoran-kotoran yang bersifat materi di pakaian dan badannya. Dan hal itu dapat
disucikan oleh air yang melimpah. Demikian Juga shaiat lima waktu, ia membersihkan pelakunya dari noda-noda dosa hingga tidak tersisa sedikitpun. 12

3. Bersedekah

Allah berfirman:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu, kamu membersihkan dan mensucikan mereka. dan berdo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS At Taubah:103).

Ibn Taimiyah berkata: “Sesungguhnya zakat itu mengharuskan adanya thaharah. Firman Allah "Khudz min amwaalihim shadaqatan tuthahhiruhum" adalah membersihkan dari keburukan-keburukan, sedangkan "wa tuzakkiihim" adalah menyucikan dengan amal-amal kebajikan.

Firman Allah "Khudz min amwaalihim shadaqatan" menunjukkan, bahwa amal kebajikan ltu bisa men-tathhir (membersihkan) dan men-tazkiyah (menyucikan) jiwa dari dosa-dosa yang telah lalu, karena firman tersebut diucapkan setelah flrmanNya "Dan ada pula orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka". Jadi taubat dan amal shalih merupakan tangga untuk menggapai tathhir dan tazkiyah.” 13
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya sedekah itu adalah kotoran-kotoran mnnusia yang mereka sucikan dari diri mereka,” 14

Ketika Al Abbas meminta kepada Rasuiullah agar la ditugaskan untuk mengurusi sedekah (zakat), beliau bersabda, "Aku tidak akan menugaskan anda untuk mengurusi cucian dosa manusia." 15


4. Meninggalkan semua yang diharamkan.

Dalam masalah ini, Ibn Taimiyah berkata, "Jiwa dan amal tidak bisa suci, hingga dihindarkan dari hal-hal yang bisa menentangnya. Dan seseorang itu tidak berslh, kecuail dengan meninggalkan yang buruk; karena ia mengotori jiwa dan menggelapkannya.
I
bn Qutaibah berkata, Firman Allah ''Wa qad khaaba man dassaahaa'', artinya orang yang mengotori hatinya dengan kefasikan-kefasikan maksiat, orang yang fajir itu telah menghancurkan jiwanya, dan menenggelamkannya. Sedangkan pelaku perbuatan ma'ruf, ia telah mengangkat dan meninggikan pwanya," (Majmu' Fatawa 10/629.10/188).


Ibn Taimiyah berkata, "Sesungguhnya, zakatnya hati tergantung pada kebersihannya, sebagaimana zakatnya badan tergantung pada pembersihannya dari unsur-unsur dan hal-hal yang jelek dan rusak.
Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia AIlah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar iagi Maha Mengetahui (QS An Nur: 21).


Allah menyebutkan hal itu setelah penyebutan haramnya zina. menuduh zina dan menikahi pezina. Demikian ini membuktikan, bahwa cara memberslhkan jiwa ialah dengan meninggalkan semua larangan tadi. 16


Allah juga memerintahkan agar menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Semua itu demi tazkiyatun nufus.


Allah berfirman, Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya: yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS An Nur:30).
Meninggalkan perkara-perkara keji dan kotor yang nampak maupun yang tersembunyi adalah bersih dan suci; sebagaimana syari'at menyebut dosa itu keji; seperti zina dan homo sebagai perkara yang najis, kotor dan jorok.


Allah berfirman, “Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (adzab yang teiah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (QS AI Anbiya': 74).


Kaum homo berkata: Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih. (QS An Naml: 56).


Jadi, meskipun kaum homo itu melakukan syirik dan kufur, akan tetapi mereka tetap mengakui bahwa diri mereka kotor dan najis. Adapun Nabi Luth dan keluarganya adalah orang-orang yang suci, karena membersihkan diri dari perbuatan keji.


Allah juga berfirman, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (Surga).” (QS Nur: 26)


Dalam ayat ini, Allah menyebut pezina laki-laki dan permpuan, atau para pelacur dan para PSK (pekerja seks komersial) disebut dengan gelar khabitsatun dan khabitsat (orang yang kotor, hina dan rendah).
Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa melakukan sesuatu dari perkara-perkara kotor ini, maka sembunyikanlah dengan perlindungan Allah. Karena, barangsiapa memperlihatkan lembaran (dosa) nya, maka kami pasti akan menegakkan hukum Allah atasnya. 17

Sebagai penutup dari tema tazkiyatun nufus ini, akan dijelaskan cara mensucikan jiwa yang sangat ampuh
dan cukup dikenal, yaitu muhasabatun nufus (introspeksi diri). Bagaimana pembahasan, pembagiannya serta mutiara-mutiara hikmah dari para ulama' mengenai muhasabah?

Muhasabatun nufus (Introspeksi diri)

Kesucian dan kebersihan jiwa tergantung pada muhasabahnya. Al Hasan Al Bashri berkata,
Sesungguhnya, orang mukmin itu -demi Allah- kamu tidak menyaksikannya, kecuali sedang mengawasi dirinya sendiri.

Apa yang saya maksudkan dengan ucapan ini? Apa yang saya inginkan dengan makan ini? Apa yang saya inginkan dengan masuk ke sini atau keluar dari sini? Apa urusan saya dengan ini? Demi Allah, saya tidak kembali kesini? atau sejenis ucapan ini..." Maka dengan muhasabah seseorang itu bisa mengetahui aib dan kekurangannya, hingga ia mampu berusaha dalam memperbaikinya. 18

Muhasabah ada dua macam

* Muhasabah sebelum beramal.
Yaitu berpikir dan merenung ketika ada kehendak dan semangat; dan tidak segera beramal, kecuali setelah menjadi jelas keutamaannya dibanding dengan meninggalkannya.


* Muhasabah setelah selesai beramal.
Ini meliputi,
- Muhasabah mengenai ketaatan yang belum dikerjakan secara sempurna.
- Muhasabah mengenai perbuatan yang sebaiknya ditinggalkan (tidak dikerjakan)
- Muhasabah mengenai perkara mubah / biasa, mengapa mengerjakannya? Apakah hal itu dimaksudkan untuk Allah, kehidupan akhirat, ataukah dunia? 19


Sesungguhnya pemerhati masalah ini melihat adanya kelalaian dan banyak kekurangan pada diri kita dalam muhasabah an nufus. Bahkan banyak di antara kita yang sibuk dengan aib orang lain; suatu perbuatan yang melahirkan sikap 'ujub (takjub dengan diri sendiri), kibr (merasa besar sendiri, sombong), dan ghurur (tertipu dengan diri sendiri).


Sebagian salaf berkata, Engkau tidak akan menjadi faqih (orang yang mengerti) sebenar-benarnya sebelum kamu membenci (aib yang ada pada) manusia karena Allah, kemudian kamu merefleksikan pada dirimu sendiri, hingga kamu lebih membencinya. 20


Karena kelalaian kita dalam muhasabah an nufus ini sangat nampak, maka perlu kami sebutkan nukilan perkataan para ulama berikut ini.

Umar Al Faruq berkata, Cukuplah dosa seseorang, apabila aib yang ada pada seseorang menjadi jelas baginya. Sementara ia tidak tahu, bahwa aib itu ada pada dirinya sendiri, dan ia membenci orang-orang karena itu. 21
Hasan Bashri (110H) berkata,

Wahai putra Adam, kamu tidak akan menggapai hakikat iman, sehingga kamu tidak mencela orang lain dengan aib yang juga ada pada dirimu, hingga kamu mulai mengobati aib tersebut dari dirimu. Jika kamu sudah melakukan hal itu dalam dirimu, maka kamu tidaklah memperbaiki suatu aib, melainkan kamu mendapatkan aib lain yang belum kamu perbaiki. Jika kamu telah melakukan hal itu, maka kesibukanmu adalah mengurusi dirimu sendiri. Sesungguhnya hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah yang seperti itu. 22

Rabi' Ibn Khutsaim (wafat sebelum tahun 65H) ditanya,


"Mengapa kamu tidak menyebut manusia?" Ia menjawab, "Saya belum rela dengan seluruh yang ada pada diri saya, sehingga saya tidak punya waktu luang untuk menggunjing orang lain. Sesungguhnya manusia itu takut kepada Allah tentang dosa-dosa orang lain, sedangkan mereka tidak merasa takut atas dosa-dosanya sendiri. 23


Maimun Ibn Mihran (wafat 117H) berkata, Seseorang tidak masuk golongan muttaqin, hingga ia mengevaluasi dirinya sendiri lebih detail daripada mengevaluasi mitra (sekutu) nya (dalam usaha), sehingga ia tahu dari mana makanannya, dari mana pakaiannya, dari mana minumannya, apakah dari halal ataukah haram. 24


Aun Ibn Abdillah (wafat 117H) berkata, Saya kira, setiap orang yang sibuk dengan aib orang lain ialah dikarenakan ghaflah, lalai dari dirinya sendiri. 25


Bakr Ibn Abdillah (wafat 108H) Al Muzani berkata, Jika kamu melihat seseorang sibuk mengurusi aib orang lain dan merupakan aibnya sendiri, maka pastikan bahwa ia telah tertipu. 26


Sariy As Saqathi (253H) berkata, "Termasuk pertanda istidraj (diulur-ulur adzab untuknya), yaitu buta dari aibnya sendiri." 27


Abu Utsman Al Hiri (wafat 298H) berkata, Rasa takut dari Allah akan mengantarkanmu kepadaNya, sedangkan 'ujub akan memutuskanmu kepadaNya, sedangkan menganggap manusia rendah dalam dirimu, merupakan penyakit yang tidak terobati. 28


Ahmad Ibnu Ashim Al Anthaki (wafat 230-an) berkata, "Sikap shidq (jujur) yang paling bermanfaat, yaitu pengakuan kepada Allah tentang aib-aibmu." Kemudian dia berkata, "Tutuplah jalan 'ujub dengan mengenal dirimu." 29


Demikian baris-baris hikmah ini, semoga Allah mensucikan diri kita, karena Dialah sebaik-baik yang mensucikan. Dialah pemiliknya dan Tuannya.



Catatan Kaki
...1 Lihat Tafsir Ibn Katsir, 3/156.
...2 HR. Thabrani dalam Ash Shagir dan Baihaqi dalam Sunan. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah,1046.
...3 Lihat Jami'ul Ulum Wal Hikam 1 / 128-129.
...4 Madarijush Shalihin, 2/315.
...5 Ibid. 2/474.
...6 Ighatsah Al Lahfan, 1/81; Tafsir Al Qurthubi, 19/199; Majmu' AI Fatawa, 10/633; Tafsir Ibnu Katsir 4/94.
...7 Al Fawaid, hal. 184.
...8 Lihat Ighatsah Al Lahfan, 2/298.
...9 Lihat Minhajus Sunnah, 6/218.
...10 Lihat Madarijush Shalihin, 1/458; Ighatsah AI Lahfan, 2/66.
...11 HR Bukhari 528, Muslim 667.
...12 Fath Al Bari, 2/11.
...13 Majmu' Fatawa 10/634, 635.
...14 HR Malik, dishahihkan oieh Al Albani dalam Shahih At Targhtb 1/341.
...15 HR Ibn Khuzaimah 2342, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib 1/341.
...16 Ighatsah Al Lahfan 1/81.
...17 HR Malik dalam Kitab Hudud No. 12. Lihat Ibnu Abdil Barr, At-Tauhid 2/637.
...18 Madarij As Salikin 2/580. Lihat Jami' Al Ulum Wal Hikam 2/91.
...19 Ighatsatul Lahfan 1 / 134, 135.
...20 Madarijus Salikin 1 / 438; Siyar A'lam An Nubala' 4 / 539.
...21 Ibn Al Mubarak, Az Zuhd 234.
...22 Shifat Ash Shafwah 3 / 234.
...23 Ibid. 3 / 60. Lihat Imam Ahmad, Al Wara' 74.
...24 Hilyah Al Awliya' 4 / 89.
...25 Ibid. 4 / 249; Shifat Ash Shafwah 3 / 101.
...26 Shifat Ash Shafwah 3 / 249.
...27 Ibid. 2 / 376.
...28 Ibid. 4 / 105.
...29 Ibid. 4 / 277.
Dikutip dari majalah As-Sunnah 09/VII/1421H hal 15 - 20

Thursday, March 26, 2009

Tertawa di Dunia menangis di Akhirat

Salamualaik...
ana nak kongsi sedikit ilmu bersama para budiman sekalian..
apa terjadi kalau banyak ketawa?? dalam satu hadith, Nabi saw bersabda ' Banyak tertawa dan tergelak-gelak itu mematikan hati'..
lagi..banyak ketawa menghilangkan akal dan ilmu..
'Tertawa di masjid-menggelapkan suasana kubur'
So, sahabat, sebaik-baik cara bergembira ialah seperti Rasulullah. baginda tidak terbahak-bahak tapi hanya senyum menampakkan gigi tanpa bersuara kuat.
"ketawa segala nabi ialah tersenyum,tetapi ketawa syaitan itu tergelak-gelak."
mari renung bersama.... wallahua'lam...

Wednesday, February 25, 2009

Satu Semester yang berlalu...

Masa terus bergerak meninggalkan yang terleka.

Sedar tak yang kita telah menghampiri ke penghujung semester. Hem...sekarang musim nak pulang kampung, jadi pesanan utama dari ana wakil, irkss 08/09,

-Berhati-hati di jalan raya.

Apa pun, nak kongsi sedikit pengalaman, ana kalau pulang mesti buat jadual. Nak tahu kenapa?
sebabnya, setiap kali pulang,kalu tiada jadual, ana pasti buang masa begitu saja. he he

itu ana...antum bagaimana?

So, sekurang-kurangnya, kita dapat hadkan pembuangan masa kita. Kurangkan penghasilan tahi mata, dan gandakan tenaga dalam perkara yang bermanfaat.

Yalah, pelajar Ilmu Wahyu, takkanlah nak buang masa begitu saja , kan?
Kita ada tanggungjawab yang amat besar di hadapan sana , takkan tak sedar lagi?:(...

Pernah tak dengar, golongan agama yang melemahkan agama itu sendiri? Ana tujukan pesanan ini untuk ana sendiri khususnya, dan juga antum sekalian.

Sebagai pelajar Ilmu Wahyu, kita harus berada di hadapan, mempunyai jati diri yang jitu, matlamat yang jelas. Jangan kerana antum tidak yang tidak pernah mengahrapkan dapat kos Ilmu Wahyu ini , seterusnya sewenang-wenangnya menconteng arang di muka semua pelajar yang mengambil kos ini dengan ikhlas.

Sebenarnya, pasti ada hikmah kenapa antum mendapat kos ini. Tapi, hikmah itu di cari , bukan untuk di tunggu.

Kali ini, post ini agak keluar dari konsepnya kerana hanya sebagai tazkirah untuk kita semua. Atau lebih kepada muhasabah.

jadi, wahai sahabat sahabiah semua...

Jangan kita mengelak lagi, hadapilah kenyataan..kita pelajar Ilmu Wahyu, yang bakal memartabatkan Kalimatullah di muka bumi ini...Bukalah minda, jangan biar diri masih bermain di bayangan masa yang sebenarnya telah jauh meninggalkan kita...

Hanya sekelumit pandangan dari ana...insan lemah.

Mungkin kita boleh berkongsi lagi...silakan...

Sunday, February 15, 2009

PENGENALAN AL-FIQH

Assalamualaikum...
ana dan sahabat ana telah diberi mandat untuk mengurus bahgian ini..
insyaAllah selepas ini kami akan lampirkan lebih banyak tentang ilmu fiqh..
kami juga akan membuka slot soal jawab..
namun panel yang akan menjawab segala persoalan bukanlah dari kalangan kami...
panel yang akan menjawab segala persoalan fiqh nanti adalah pensyarah dari UIAM..
iaitu USTAZ MOHAMMAD NIDZAM BIN ABDUL KADIR..
Serba sedikit tentang latar belakang ustaz...
-dilahirkan di Alor Setar,Kedah.
-mendapat pendidikan awal di Maktab Mahmud Alor Setar kemudian ke Kolej Islam Sultan Zainal Abidin..
-Sarjana Muda dari Universiti Al-Azhar dan Ijazah Sarjana dari Universiti Islam Antarabangsa Malaysia(UIAM).
-moderatot utama dalam segmen "Anda Bertanya Islam Menjawab" didalam laman web"Ustaz Nidzam"

Walaubagaimanapun,sebarang pendapat yang dirasakan kurang menepati apa yang anda fahami bolehlah dikongsi bersama,moga-moga dengan perselisihan pendapat, kita dapat mencari satu titik pertemuan yang pasti.
"innamal mukminuna ikhwah,faashlihu baina akhowaikum"...

Thursday, February 12, 2009

hubungan sesama islam

HUBUNGAN SESAMA ISLAM
Maksud Hadis Hurairah r.a. berkata Rasulullah s.w.t. bersabda yang bermaksud:
"Janganlah kamu berdengki-dengkian, dan janganlah kamu bertipu-tipuan, dan janganlah kamu berbenci-bencian, dan janganlah kamu berbelakang-belakangan, dan janganlah setengah kamu menjual di atas penjualan setengah kamu dan jadilah kamu hai hamba Allah bersaudara."
Orang Islam bersaudara orang Islam,tiada boleh ia menganiayanya, dan tiada boleh membiarkannya (dalam kehinaan) dan tiada boleh mendustainya dan tiada boleh menghinakannya.
Taqwa itu di sini kata nabi , sambil menunjuk dadanya tiga kali. Sudah cukup banyak kejahatan seseorang itu, bahawa ia merendahkan saudaranya orang Islam. Sekalian orang Islam ke atas orang Islam haram darahnya dan hartanya dan kehormatannya. Diriwayatkan oleh Muslim.
SYARAHANNYA :
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah. Selain Muslim lagi hadis-hadis riwayat yang lain daripadanya yang di antara kandungannya ada sebagaimana yang diterangkan dalam hadis tersebut.
NILAINYA :
Hadis ini mengandungi nilai utama dalam soal persaudaraan Islam, di mana ditegaskan secara perintah akan larangan-larangannya yang tiada boleh dilanggar demi untuk pemeliharaan suasana persaudraan itu.
Perkara yang mengenal hubungan di antara orang Islam :
1. Beberapa Perintah Larangan
Pada hadis tersebut Rasullah ada menerangkan perkara yang mengenai hubungan di antara orang Islam. Untuk memelihara hubungan ini ditegaskan beberapa perintah yang merupakan larangan yang wajib dipatuhi ; iaitu janganlah kamu berdengki-dengkian di antara sama sendiri. Kerana dengan dengki atau hasad menyebabkan terputusnya hubungan.
Dengki ialah satu perasaan jiwa yang timbulnya perasaan itu pada seseorang oleh kegelisahannya memandang kelebihan yang ada pada orang lain atau oleh kebenciannya melihat ada orang yang melebihinya dalam sesuatu perkara atau keadaan.
Orang yang dengki atau hasad selamanya gelisah, jiwanya tidak tenteram , kerana ini dia berusaha untuk menghilangkan suatu kelebihan yang ada pada orang lain dengan perkataannya atau dengan perbuatannya dan berikhtiar untuk memindah sesuatu kelebihan yang ada pada orang lain itu kepada dirinya sendiri. Dan ada pula orang yang dengki itu berusaha untuk menghilang atau mencedera suatu kelebihan dari orang yang mempunyai semata-mata kebencian yang melulu, kerana dia sendiri tidak berhajat kelebihan itu untuk dirinya. Kedua macam kedengkian tersebut adalah tercela dan inilah perasaan kedengkian yang sejahat-jahatnya yang pernah digunakan oleh Iblis terhadap nabi Allah Adam a.s sehingga baginda dikeluarkan dari tempat kediamannya dalam syurga.
Sementara itu ada pula sejenis perasaan dengki atau hasad yang terbunuh dalam jiwa seseorang, tetapi dia berdiam diri, tidak ada usahanya yang jahat sama ada dengan perkataannya mahupun dengan perbuatannya untuk menumpas suatu kelebihan orang lain. Hasad seperti ini diharap tiada menyebabkan dosa, sebagaimana sabda Rasul yang bermaksud :
"Tiap-tiap anak Adam ada hasadnya, dan tiada mendatangkan kemudaratan kepada orang hasad oleh hasadnya selama ia tiada pernah bercakap lidah atau berbuat dengan tangan."
Seterusnya ada lagi sejenis perasaan hasad yang terbunuh dalam jiwa tetapi segera dilenyapkan serta ditumbuhkan perasaan cinta kepada orang yang mendapat kelebihan dan didoa supaya ia dalam selamat dan sejahtera. Inilah satu-satunya perasaan yang membuktikan kesuburabn iman yang dipuji.
Setelah Rasullullah menerangkan larangan dengki atau hasad, maka diterangkan pula larangan bertipu-tipuan dan berbencian dengan sabdanya yang bermaksud : " Janganlah kamu bertipu-tipuan dan janganlah kamu berbenci-bencian di antara kamu."
Larangan bertipu-tipuan ialah melarang seseorang menaikkan harga barang-barang padahal dia sendiri tidak mahu membelinya untuk menyusahkan orang lain. Perbuatan ini adalah haram. Masuk juga kepada larangan ini segala perbuatan tipu atau kecoh dalam jual beli.
Larangan benci-bencian ialah melarang seseorang membenci dengan menghina orang lain semata-mata menurut dorongan hawa nafsu yang angkuh dan sombong. Perbuatan ini melenyapkan perasaan kasih sayang di antara seorang dengan saudaranya padahal perasaan ini wajib dipelihara dan dipupuk dengan semangat cinta sebagai orang yang percaya kepada Allah. Rasullullah S.A.W bersabda yang bermaksud ; " Tidak akan kamu masuk syurga sehingga kamu beriman. Dan tidak (dikata) buat akan dia nescaya kamu berkasih-kasih ? Iaitu syiarkanlah Islam di antara kamu."
Kemudian Rasullullah menerangkan larangannya dengan sabdanya ; "Janganlah kamu berbelakang-belakangan atau berpaling-palingan ialah melarang perbuatan ini dilakukan oleh seorang semata-mata oleh perkara dunia. Pada hadis yang lain sebagaimana yang disebut dalam hadis Bukhari dan Muslim, Rasullullah S.A.W. menerangkan :
"Tiada halal bagi seorang Islam bahawa ia meninggal saudaranya (tiada menegurnya) lebih dari tiga hari, bila keduanya bertemu maka yang seorang ini berpaling dan yang seorang itu pula membelakangi. Dan orang yang lebih baik dari keduanya ialah orang yang memulakan dengan ucapan salam ."
Dan lagi hadis yang lebih keras ancamannya iaitu :
"Barangsiapa meninggalkan saudaranya (tiada menegurnya kerana musuhinya) selama setahun maka ia seperti menumpah darahnya."
Larangan menjual di atas penjualan ialah melarang perbuatan itu dilakukan, kerana akibatnya adalah membawa kepada benci-bencian di antara sesama sendiri. Contohnya : Seperti dua orang yang membeli itu seraya berkata : "Batalkan pembelian engkau ini, aku sanggup menjual kepada engkau barang yang lebih baik mutunya dengan harganya lebih murah dari barang yang engkau beli itu. "
Demikian pula dilarang membeli di atas pembelian orang lain. Contohnya : seperti seorang datang kepada orang yang menjual lalu berkata : "Batalkan penjualan engkau ini. Aku dapat membelinya kelak dengan harga yang lebih tinggi. "
Termasuk kepada larangan ini orang yang menawarkan barang-barangnya kepada seorang yang lain, padahal pada waktu itu ada orang yang sedang menawarnya untuk membelinya. Rasullullah S.A.W. bersabda yang bermaksud :
"Tiada menjual seorang lelaki di atas penjualan saudaranya dan tiada meminang di atas pinangan saudaranya kecuali jika ia izin kepadanya."
Larangan tersebut sebagaimana yang diterangkan oleh hadis adalah am meliputi kepada orang Islam dan kepada orang kafir, demikian menurut pendapat kebanyakan fuqaha kecuali Imam Ahmad dan orang ramai yang mengatakan larangan itu adalah khas kepada orang Islam tidak kepada orang kafir.
Setelah diterangkan segala larangan ini satu persatunya, maka Rasullullah dijelaskan pula keadaan orang Islam dalam pergaulan dengan sabdanya :
Sabdanya ini memberi suatu petunjuk jiwa. Jika mereka mematuhi sepenuhmya segala larangan itu, maka terwujudlah kasih mesra sebagai saudara yang senasib bertanggungjawab untuk kesejahteraan bersama sesuai dengan pengajaran Islam.
2. Orang Islam Saudara Orang Islam
Kemudian Rasullullah menerangkan selanjutnya keadaan sifat orang Islam. Orang Islam adalah saudara orang Islam. Yang demikian, tiadalah boleh dianiayainya, tiada boleh dibiarkannya, tiada boleh didustainya, juga tiada juga dihinanya. Larangan ini wajib dihormati untuk memelihara perpaduan di antara orang Islam yang di akui sebagai saudara.
Orang Islam tiada boleh menganiaya orang Islam, kerana penganiayan bertentangan dengan keperibadiaanya sendiri. Tetapi orang Islam wajib membantu menghindarkan penganiayaan itu serta menolong saudaranya yang berbuat penganiayaan dan saudaranya yang dianiaya ; dan tiada boleh ia membiarkan saudaranya dalam kehinaan dilakukan teradapnya tetapi dikehendaki berikhtiar sekadar yang mungkin bagi melaksanakannya. Mengenai hal ini Rasullullah S.A.W bersabda yang bermaksud :
"Tolonglah saudara engkau, yang berbuat zalim atau yang dizalimi. Ia berkata : Ya Rasullullah ! Aku pernah menolong orang yang dizalimi, maka bagaimana agaknya aku hendak menolong orang yang zalim ? Ia bersabda : Engkau tegah ia dari melakukan kezaliman, maka yang demikian itu bererti engkau menolong akan dia"
Pada hadis yang lain Rasullullah S.A.W pernah menyatakan "Bahawa barangsiapa yang tiada mahu menolong seseorang mukmin yang dihinakan orang disisinya padahal dia mampu menolongnya, akan dihinakan dia oleh Allah di tengah-tengah khalayak ramai pada hari kiamat. Sebaliknya pula, orang yang menolong saudaranya dengan cara yang tersembunyi dalam perkara yang ia dapat menolongnya akan ditolongi Allah akan dia dalam dunia dan akhirat.
Juga orang Islam tiada boleh mendustakan saudaranya orang Islam kerana pendustaan menyebabkan hilangnya perasaan kepercayaan. Lebih-lebih lagi pendustaan itu dipercayai oleh saudaranya. Pendustaan seperti ini adalah suatu perkara pengkhianatan, sebagaimana sabda Rasullullah : "Besarlah pengkhianatan bahawa engkau menceritakan kepada saudara engkau suatu cerita yang ia percaya kepada engkau, padahal yang sebenarnya engkau berdusta kepadanya."
Demikian pula orang Islam tiada boleh menghinakan saudaranya orang Islam sama ada dengan perkataan atau tingkah lakunya. Sebab penghinaan bukanlah sikap yang baik dalam persaudaraan, malah sikap inilah yang menimbulkan perbezaan pandangan seseorang dalam pergaulan, dan tumbuhnya adalah dari perasaan sombong yang terselit di hati ; iaitu perasaan memandang kepada diri dengan pandangan yang mulia dan sempurna tidak sebanding dengan orang lain yang dianggap hina susah menderita.
Setelah itu Rasullullah S.A.W mengatakan "Taqwa itu di sini…..sambil menunjukkan ke dadanya sebanyak tiga kali. Ini adalah memberi isyarat atau petunjuk bahawa kemuliaan manusia di sisi Allah bukanlah dengan cara berlagak, menunjuk diri atau meninggi-ninggi darjat, peribadi, tetapi adalah dengan sifat taqwa, yang mengeluarkannya amal utama dan budi mulia, sekalipun orang taqwa itu dipandang hina dan dikeji."
Akhirnya oleh Rasullullah S.A.W. dijelaskan pula bahawa sudah cukup banyak kejahatan seseorang jika ia merendahkan atau menghinakan orang Islam dengan cara merosakkan keselamatan badannya atau menjatuhkan maruah atau kehormatan atau dengan apa sahaja yang dipandang tiada sopan di luar garisan perikemanusiaan. Dan perbuatan seperti ini adalah haram di atas orang Islam melakukannya, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis tersebut.
Demikianlah beberapa larangan Rasullullah S.A.W kepada setiap orang Islam untuk memelihara kemurnian hidup persaudaraan yang tiada dibatasi oleh kekeluargaan, oleh warna kulit dan keturunan dan oleh kedudukan. Mereka adalah sebagai satu kaum keluarga, satu jiwa, satu hati, satu akidah dan satu ibadat, satu hala dan satu tujuan, satu tempat datang dan satu pula tempat pergi, sakit sama merasa sakit dari senang sama merasa syukur. Benarlah apa yang digambarkan Rasullullah S.A.W dalam sabdanya yang terkenal : "Bandingan orang-orang mukmin dalam bercinta-cinta mereka dan berkasih sayang mereka dan bertolong ,tolongan mereka seperti bandingan satu badan : Apabila sakit satu anggota daripadanya tertariklah sekalian anggota (hingga) tiada dapat tidur dan demam."
Pada hadis yang lain dijelaskan bahawa "Seorang mukmin bagi seorang mukmin itu satu binaan yang sebahagiannya menguatkan sebahagian dan orang Islam itu seperti satu badan jika sakit matanya sakitlah sekaliannya dan jika sakit kepalanya sakitlah sekaliannya."
PETUNJUKNYA :
Bahawa di antara yang ditunjuk oleh hadis yang ketiga puluh lima ini ialah :
1. Hadis ini menunjukkan secara tegas bahawa Rasullullah S.A.W melarang setiap orang melakukan sebarang perbuatan yang mencederakan atau merosak kehormatan saudaranya dari orang Islam. Sebab orang Islam mempunyai kemuliaan dan kehormatan peribadinya, harta miliknya dan maruahnya atau nilai hidupnya, larangan yang ditegaskannya itu ada sebanyak sembilan perkara dalam bidang pergaulan umum dan hubungan perniagaan yang kesemuanya merupakan suatu petunjuk yang sangat berguna kepada orang Islam di segala tempat dan zaman.
2. Juga menunjukkan bahawa orang Islam dalam dunia ini adalah bersaudara kerana ini mana diharamkan ke atas setiap orang Islam mengerjakan suatu yang bertentangan dengan hak persaudaraan itu. Rasullullah dalam hadis tersebut menegaskan perintahnya mengenai hal persaudaraan tersebut iaitu : "Berkata Al-Khurtabi, bahawa erti sabdanya ialah : "Hendaklah kamu menjadi sebagai orang-orang yang bersaudara persaudaraan satu darah keturunana yang diikat oleh rasa sayang, saling cinta menyintai, nasihat-menasihati, bantu membantu serta bertimbang rasa."
Inilah di antara petunjuk hadis yang sangat patut diambil perhatian oleh setiap orang Islam untuk memelihara keteguhan dan keutuhan perpaduan dalam hubungan persaudaraan kerana dengan pemeliharaan ini wujudlah perasaan muhibbah diselubungi oleh suasana aman damai.
Dan inilah pula dasar persaudaraan Islam yang diasas di atas tuntutan agama, serta dipelihara dengan semangat pengajarannya dalam mana perasaan muhibbah yang sejati menjadi terasnya. Maka dengan semangat ini terdapatlah saling hormat menghormati, bantu-membantu, berusaha untuk mewujudkan kebaikan, menghindarkan kejahatan dan ini pula yang menjadi amalan hidup seseorang dalam masyarakatnya. Andaikata, oleh suatu hal seorang itu tidak dapat melaksanakan amalan ini, maka hendaklah dia hidup berdiam diri, tak usahlah mengganggu atau menyusahkan orang lain. Ikutilah pengajaran ini : "Hendaklah engkau pelihara tiga perkara yang menjadi habuan orang mukmin iaitu :
Pertama, jika engkau tidak dapat memberi manfaat kepadanya maka janganlah engkau menyusahkan dia.
Kedua, jika engkau tidak mahu menyukakan dia maka janganlah engkau mendukakan dia dan ;
Ketiga, jika engkau tidak hendak memuji dia maka janganlah engkau mencela dia Wallahhualam

Perkongsian Ilmu

Seminar Pembangunan Ummah-Masjid Wilayah,KL
Labels: ,


Seminar yang telah diadakan pada tanggal 7/2/2009 ini melibatkan pelajar IPT , antaranya Pusat Asasi UIAM sendiri sebagai penganjur, UIAM Gombak, Darul Quran , UKM, dll. Dalam arus perdana yang serba mencabar ini, ummah Islam yang berkualiti semakin hilang tanpa disedari.

Bertepatan dengan objektif program ini, iaitu sebagai satu tapak persediaan golongan mahasiswa mencari titik perubahan yang patut mereka laksanakan maka semua yang rasa bertanggungjawab menghulurkan bantuan melalui kerjasama yang jitu dalam memastikan objektif program ini tercapai. Setinggi-tinggi terima kasih buat pihak yang terlibat, JAWI, YAYASAN SOFA, MUAFAKAT , dll.

Tanpa banyak bicara, didahulukan ulasan mengenai pembentangan kertas kerja pertama...


Pembentangan Kertas Kerja Pertama.
Oleh Ustaz Hj. Zamihan Hj. Mat Zin
Pengarah ILIM



Seperti biasa kita mesti akan mendengar definisi tajuk.

Sebelum itu eloklah tajuknya dinyatakan di sini.

Tajuk yang diberi ialah, "Peranan Mahasiswa Dalam Memahami dan Membanteras Penyelewengan Agama"

Peranan adalah Tugas,

Mahasiswa adalah satu mekanisme kawalan atau slagi adalah Agen perubahan Ummah, semestinya golongan ini perlu kepada peningkatan dari segi akidah,akhlak dan syariah.


Penyelewengan Agama adalah satu situasi yang menyimpang dari tujuan asal agama.


Kita pergi terus kepada Skop Penyelewengan Agama yang harus dilihat, ada 6 kesemuanya :-

1. AkidahBerlaku apabila...

-Menafikan perkara yang sepakati oleh ulama'

-tidak mampu membezakan hukum syarak

-Terlibat dalam ajaran yang sesat

-Murtad

- dll, harap rakan-rakan yang pergi seminar itu dapat menambahnya..jika ada

2. Syariah

Secara ringkasnya, penyelewengan agama berlaku apabila

-ada pertambahan peraturan dalam hal ushul

-melampau batasan

-menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal

-Memperkatakan persoalan Mutasyabihat

3.Kerohanian

-Dalam bidang Tasauf. Amalan sufi yang dilakukan bertentangan dengan akidah Islamiyyah.

4. Perubatan

-Wujud perubatan tradisional yang tidak selari dengan ajaran Islam dan lebih kepada amalan khurafat.
(Ada poin yang tidak dinyatakan, kepada sesiapa yang tahu, sila tambah).

5. Akhlak

-Orang Islam masa kini tidak mencerminkan peribadi akhlak muslim

-'Akhlak Liberal" diguna pakai dalam kehidupan

-Ikut Trend


6. Gerakan

- Banyak pertubuhan NGO yang bukan perjuangkan akidah Islam yang sebenar...Contohnya, NGO Syiah, Liberal, Arkam, JI, Al Ma'unnah , dll.

-Ada antaranya yang menvisualisasikan Allah

Sedangkan dalam Sirah Nabi , ada yang minta Nabi SAW menceritakan rupabentuk Allah(menyifatkan Allah) maka turunlah Surah Al ikhlas. Di sini, penceramah menekankan supaya umat Islam mempelajari dan mengambil tahu kenapa setiap surah diturunkan agar kita tidak dikelirukan oleh golongan -golongan yang terpesong akidahnya.

-Serangan pemikiran juga menyebabkan virus-virus penyelewengan semakin aktif dalam kalangan umat Islam.



Kita berpindah kepada kesan penyelewengan tadi...


Kesannya adalah...Melahirkan Golongan dibawah ini..
1. Kufur, MurtadMereka menafikan hukum Allah SWT.Murtad boleh terjadi melalui niat, perbuatan dan percakapan.

2. Bid'ah dan SesatUbah ketulenan agama( Perkara Ushul)

3. EkstremisMudah menyalahkan orang lain, memukul orang, tidak tahu membezakan perkara yang furu' dan ushul.Tidak berpaksi kepada akidah yang sebenar.

4. Jauh dari Rahmat Allah SWT.Sentiasa menghadapi masalah,Selalu mendapati hasil kerja yang dilakukannya tidak seperti yang dikehendaki.


Jadi, Peranan Mahasiswa ?

Matang dengan Ilmu.

-Ilmu wajib dipelajariFardhu 'Ain dan fardhu Kifayah.Fardhu Kifayah di sini selalu disalahertikan oleh masyarakat, Contoh , Seorang Ustaz dalam sebuah kampung tahu cara-cara mengurus Jenazah, maka yang lain tidak perlu lagi mempelajarinya. Ini anggapan yang salah sama sekali. Selagi kita mampu untuk mempelajari cara mengurus jenazah, kita perlu untuk tahu kuasai ilmu itu . Begitu juga dalam hal-hal yang lain.

-Belajar mesti BERTALAQQI

-Berguru dengan ulama dan banyakkan merujuk dan membaca kitab-kitab muktabar.Membaca boleh mengelak serangan pemikiran jika disertai dengan merujuk para ulama'. Ulama' yang menjadi rujukan pula biarlah ramai. Kajian dan perbincangan mesti selari dengan pembacaan barukan menampakkan kesan yang efektif dalam menguasai seuatu ilmu atau isu semasa.

-kuasai Disiplin Ilmu..Tahu kenapa menuntut ilmu.=untuk mengenal Allah.

-Meningkatkan Amalan

*Istiqamah amalan wajib.

*Amalan sunat yang boleh diamalkan,contoh:solat berjamaah, zikir, amalan surah pilihan, sentiasa berwudhuk,rathib.

Mendokong Visi Islam


1.Rancang aktiviti dakwah, cth:blog,usrah, hiwar, website.
2.Dakwah sepanjang masa
3.Promosi kebajikan Cegah Mungkar
4.Jalinan NGO denagn Kerajaan
5. Fahami aspirasi Ummah
6.Memiliki sifat da'ie yang sepatutnya
7. Ikut kemampuanBerorganisasi

- Cari pemimpin yang ikhlas
-visi , misi dan identiti jemaah yang jelas
- kerjasama global.

Menuju Allah

1. Tauhid yang betul
2. Meletakkan Cinta kepada Allah SWT dan Rasul SAW yang utama, diikuti para Alim ulama',kasih sesama saudara seislam.

Sumbangan

Akidah yang benar, Metod yang tepat, Laksanakan kewajipan , Utamakan pendapat Ulama',Elak khilaf, Islah(hanya terbaik Pilihan Allah), bergantung harap pada Allah SWT.

Akauntabiliti

1. Aku janji dengan AllahSWT dalam doa Iftitah
2.Diriku daie
3.Dakwah & Kewajipan
4. Apa sumbangan yang telah dilakukan
5. Temujanji dengan Allah
6.Selalu muhasabah


Pemantapan

1.Lakukan perubahan secara aktif
2.Programkan Minda bahawa kita perlu jadi daie
3.utamakan apa ynag utama
4.Berfikir jauh- menang-menang(dunia & akhirat)


Rasanya setakat itu dulu kali ini...jika nikmat waktu lapang masih ada maka pembentangan yang kedua akan menyusul.

Jika ada sebarang pertanyaan,boleh terus rujuk kepada penceramah di alamat blog,
http://www.al-ghari.blogspot.com/

Ini adalah hasil dapatan pendengar, tentu terdapat kecuaian mendengar dan menyampai. Ana dahulukan ucapan maaf dan sama-sama kita tegur menegur kepada kebaikan dan kesabaran. Kepada penceramah ,jika ada kesalahan penyampaian maklumat harap dimaklumkan.syukran.

diambil dari blog, http://www.saifulmujahidah.blogspot.com/


Harap bermanfaat,

irkss 08/09

Monday, February 2, 2009

Sunnah Kekasih Allah


Sesungguhnya pada diri Rasulullah saw terdapat suri tauladan yang baik bagi kita, maka alangkah ruginya jika kita meninggalkan atau melupakan Sunnah Rasul saw tersebut, yang didalamnya terkandung banyak kebaikan, Padahal kebaikan itu datangnya dengan cara mengikuti apa yang docontohkan oleh Rasulullah saw dan para Sahabatnya .


Dan salah satu teladan yang baik pada diri Rasulullah saw adalah adab beliau ketika makan. Seringkali kita jumpai pada kaum muslimin cara-cara makan yang tidak sesuai dengan etika yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, mungkin karena ilmu belum sampai kepada mereka atau karena malas dan mungkin karena enggan melakukannya.


Adapun adab-adab makan yang sering dilupakannya itu adalah sebagai berikut:


1. Makan berjama’ah


Berkumpul menghadapi hidangan dan makanan secara berjama’ah adalah suatu yang dianjurkan bagi kaum muslimin di samping akan mendapatkan keutamaan berdasarkan hadits berikut:


’Berjama’ahlah dalam menyantap hidanganmu dan sebut nama Allah padanya, niscaya akan mengandung berkah bagimu. (Silsilah Hadits-hadits Shahih no. 664).


Hadits ini dikabarkan oleh Rasulullah r berkenaan dengan seseorang yang datang kepadanya dan berkata:


Wahai Rasulullah, kami ini setiap kali makan tidak pernah kenyang. Maka Rasulullah berkata:


“Pasti masing-masing kamu makan sendiri-sendiri. Dia menjawab: benar ya Rasulullah. Rasulullah berkata:


“Berjama’ahlah dalam menyantap makananmu.”



Hadits di atas memerintahkan kepada kita agar setiap kali makan supaya berkumpul melingkar pada satu nampan makanan dan tidak makan sendiri-sendiri, sebab makan sendiri-sendiri itu disamping akan membuat masing-masing orang yang makan itu tidak akan kenyang (seperti kata shahabat di atas) juga tidak mendapatkan berkah/kecukupan.



Karena kecukupan itu akan diperoleh dengan makan bersama, meskipun jumlah peserta hidangan bertambah, sebagaimana kata Nabi saw:


“Makanlah berjama’ah dan jangan bercerai-berai, sesungguhnya makanan satu orang itu cukup untuk dua orang”.


“Sesungguhnya makanan satu orang itu cukup untuk dua orang makanan dua orang cukup untuk tiga atau empat orang dan makanan empat orang cukup untuk lima atau enam orang. (Silsilah hadits-hadits shahih no. 895).



2. Makan dengan menggunakan Shahfah/Qash’ah[1] (nampan) dan di atas hamparan.



Makan berjama’ah di atas hamparan dengan menggunakan Shahfah adalah salah satu sunnah Nabi r yang harus diikuti, sedangkan makan diatas meja dengan menggunakan Sukurrajah adalah cara makan yang harus dihindari. Anas bin Malik berkata: “


Nabi saw tidaklah makan diatas meja makan dan tidak pula menggunakan Sukurrajah (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Syamail, shahih Bukhari no. 5386 dalam kitab Fathul Bari 9/532).


Ibnu Hajar berkata:


“Guru kami berkata dalam (Syarah at-Tirmidzi): “Sukurrajah itu tidak digunakan karena mereka (Rasulullah dan para shahabat) tidak pernah menggunakannya, sebab kebiasaan mereka makan bersama-sama (dengan Shahfa-pent) atau karena makan dengan menggunakan sukurrajah itu menjadikan mereka tidak merasa kenyang. (al-Fath 9/532).



3. Mengambil suapan yang jatuh. Nabi saw berkata: “Apabila salah seorang dari kamu makan, kemudian suapannya jatuh dari tangannya, hendaklah ia membersihkan apa yang kotor darinya lalu memakannya, dan janganlah ia membiarkannya untuk (dimakan) setan. (Silsilah hadits-hadits Shahih) no. 1404).


Hadits ini mengajarkan kepada kita agar tidak menyia-nyiakan makanan yakni dengan tidak membiarkan makanan yang jatuh untuk dimakan setan.



4. Menjilati makanan dan shahfah.


“Dan janganlah ia mengusap tangannya dengan mindil/serbet hendaklah ia menjilati tangannya, karena seseorang itu tidak mengetahui pada makanannya yang mana yang mengandung berkah untuknya, sesungguhnya setan itu selalu mengintai untuk merampas harta manusia dari segala penjuru hingga di tempat makannya.


Dan janganlah ia mengangkat shohfahnya hingga menjilatinya dengan tangan, karena sesungguhnya pada akhir makanan itu mengandung berkah. (Silsilah hadits-hadits shahih no. 1404).


Berkata Imam Nawawi, tentang makna kaliamat


“Pada makanannya yang mana yang diberkahi.”


Ia berkata: Sesungguhnya makanan yang dihidangkan untuk manusia itu mengandung berkah, sedang dia tidak mengetahui apakah berkah itu pada makanan yang ia makan atau pada sisa makanan yang melekat di tangannya atau pada sisa makanan di dalam shahfah atau pada suapan yang jatuh. Untuk itu hendaklah ini menjaga semua itu agar selalu mendapatkan berkah. (Fathul Bari 9/578).



5. Mengusap makanan dengan mindil[2]


Nabi r bersabda “Janganlah mengusap tangannya dengan mindil hingga menjilati tangannya..” Hadits ini mengisyaratkan kepada kita agar setiap selesai menjilati tangan agar mengusapnya dengan serbet, bukan dengan selainnya seperti dengan handuk atau tisue (kertas tipis). Ibnu Hajar berkata:


“Hadits diatas berisi larangan bagi orang yang mempunyai serbet tapi tidak mengusap tangan dengannya dan juga berisi larangan terhadap orang yang menggunakan selainnya. (Fathul Bari 9/557).



6. Berkumur-kumur setelah makan


“Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami, Sufyan telah menceritakan kepada kami: “Aku telah mendengar Yahya bin Said dari Busyair bin Yasar dari Suwaid bin Nu’man berkata:


“Kami keluar bersama Rasulullah ke Khaibar. Tatkala kami sampai di Shahba, Nabi mengundang makan, dan tidak dihidangkan makanan kecuali gandum, maka kami makan (bersama). Kemudian beliau berdiri untuk menjalankan shalat, maka beliau berkumur-kumur, dan kamipun berkumur-kumur. (HR. Bukhari no. 5445 dalam al-Fath 9/576).

--------------------------------------------------------------------------------


[1] Qash’ah adalah piring besar untuk makan sepuluh orang sedangkan Shahfah adalah piring besar untuk makan lima orang (Syama’il Muhammadiyah, bab. Cara makan Nabi r).


Adapun Sukurrajah adalah piring kecil yang biasa dipakai untuk memberi makan anak kecil. (Fathul Bari 9/532). [2] Mindil adalah kain yang dipakai untuk mengusap tangan selesai makan dan bukan kain yang dipakai untuk mengusap badan selesai mandi. (Fathul Bari 5/577).


dari forum iluvislam...jika ada kesilapan maklumat sila khabarkan dalam komen..

syukran..


sumber :[http://www.geocities.com/jantan_salafy/umum/adabmakan.html] Jantan Salafy[/url]